12.16.2008

Hayakuchi Kotoba - A Japanese Tongue Twister

Hayakuchi Kotoba - A Japanese Tongue Twister

baru aja dapet ini dari forum, dan seharusnya cukup menarik untuk dibagi-bagikan...

Boozu ga byoubu ni jyouzu ni boozu no e wo kaita

Kono takegaki ni take tatekaketa no wa take tatekaketakattakara take

tatekaketa

Kono ko ni tokonatsu no kokonatsu kokonotsu, ano ko ni mo tokonatsu no

kokonatsu kokonotsu

Tora wo toru nara tora wo toru yori tori wo tore, tori wa otori ni tora

wo tore

Kono kugi wa hiki nuki nikui kugi da

Kamoshika mo shika mo shika da ga, tashika ashika wa shika de wa nai

Shansonkashu, sinshunshansonshu

Kanda kajicho kado no kajiya no Kanbei-san ga kachiguri katta ga

katakute kamenai kamisan ga kanshaku okoshite kari-kari kandara

kari-kari kameta

Tonari no kyaku wa yoku kaki kuu kyaku da

Tokyo tokkyo kyokakyoku

Kono takegaki ni dare take tatekaketa

Niwa-san no niwa ni wa, niwa no niwatori wa niwaka ni wani wo tabeta

Nomu nara noru na, noru nara nomu na

Uriuri ga uri urini kite uri urezu uri uri kaeru uriuri no koe

Kata Kata kata tataku katatatakiki

Buta ga buta wo butta node butareta buta ga butta buta wo buttabuta

Basu gasu Bakuhatsu, busu basu gaido

oaya ya haha oya ni oayamari

sumomo mo momo mo momo no uchi

Tonari no kyaku wa yoku kaki kuu kyaku da

Namamugi namagome namatamago

Sumomo mo momo mo momo no uchi

Basu gasu busu basu gaido


credits to : kannazuki from AOI

update

+ UAS sudah berakhir
+ matematika dapet 80...
+ AOI game sudah semakin serius
+ mantap ke yankee
+ remed kimia hiks hiks

12.13.2008

I just cannot be focused!!

okei, sebenarnya gw suka menulis cerita...

dan sekarang punya lebih dari 7 cerita yang semua menunggu untuk diselesaikan...

tapi ga tau mau ngelamjutin yang mana~~

dan kata seorang temen... dia nggak ngelihat ada satupun tulisanku yang berpotensi!

kenapa? karena katanya semua tulisanku berhenti pda fase awal!

walaupun gitu, dia juga bilang kalau dia mau lihat semua lanjutan ceritaku...

everyone help me!

motivate me plox

11.22.2008

Rune factory 2 : A Fantasy Harvest Moon

Akhirnya, setelah lamaa~ banget ditunggu, US Ver. dari spin-off Harvest Moon, yaitu Rune Factory 2 : A Fantasy Harvest Moon (RF2) keluar juga, pada tanggal 18 November 2008. Sedangkan torrentnya sendiri keluar sehari setelahnya.

Tidak berbeda dengan pendahulunya, RF2 masih memadukan kemajemukan cerita dan rasa santai yang dimiliki harvest moon dengan kelinieran dan keseruan yang dimiliki game-game hack-and-slash jadul seperti Zelda. Berhubung saya sendiri masih kurang dari satu jam gameplay hour, mungkin pada post kali ini saya tidak bisa bercerita banyak, namun saya akan coba tulis apa yang saya bisa.

Story = 8/10

Cerita yang bisa saya tangkap dalam waktu satu jam permainan, saya rasa cukup dalam dan menarik. Player masih berperan menjadi tokoh amnesia yang tidak jelas juntrungannya (Kyle - nama default), yang ditemukan oleh main heroine (Mana). Setelah itu Kyle akan bisa langsung mengelilingi desa Alvarna, yang terbagi menjadi beberapa bagian utama yaitu farm, east end, town square, west end dan dock, tentu saja dengan beberapa dungeon dan daerah minor lainnnya.

Tidak seperti RF1, di mana player hanya akan terfokus pada pengelolaan pertanian, story yang ada di RF2 akan terasa lebih mudah diikuti dan menarik. Ada beberapa isu penting, seperti pertengkaran antara ibu dan anak, ayah main heroine yang overprotektif, sampai perseteruan antarras sampai pencarian akan keberadaan tuhan. Dan baiknya lagi, player akan dapat menemukan bongkahan-bongkahan cerita itu sejak awal permainan, dan mendapatkan bagian-bagian lainnya sepanjang permainan melalui event dan/atau berbagai job request yang menyisipkan hal-hal tersebut.

Gameplay = 8/10

Pada dasarnya, gameplay yang dimiliki RF2 masih sangat serupa dengan RF1, namun ada berbagai penyesuaian di sana-sini. Selain itu, dengan adanya sistem job request (bisa dilihat di bulletin board di bagian selatan pancuran di town square), player bisa mendapatkan goal-goal jangka pendek yang tentunya diharapkan akan mengurangi rasa bosan. Selain itu, pemberian modal yang minim dan harga barang pokok (terutama seeds) yang mahal bisa memberikan suatu tingkat kesulitan yang cukup tinggi pada pemain yang kurang sabar, namun hal ini masih bisa ditolerir karena hal ini semata-mata dilakukan untuk membuat pemain bisa lebih tertantang.

- Sistem berkebun masih sama, dengan sistem multi-farm, yaitu di farm utama dan di dungeon-dungeon, cukup invatif untuk game seperti ini, namun masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan dibandingkan RF1.

- Sistem battle diperkuat dengan adanya seal skill (bukan magic) yang spesifik dengan penggunaan senjata tertentu, dan adanya senjata sihir (senjata non-battle oriented yang memberikan buff positif ke magic yang dimiliki player) dapat member player pilihan-pilihan Job yang lebih luas (Pike Farmer, atau Magic Fisher)

- Sistem pemancingan, belum coba

- Sistem penambangan, belum coba, namun dari adanya bongkahan-bongkahan ore yang tergeletak di sepanjang dungeon pertama (Trieste Forest), bisa diasumsikan bahwa sistemnya tidak jauh berbeda.

Kontrol = 8/10

D-pad = bergerak
A = ambil item, galge, anime, mp3s, tombol utama pada menu-menu
B = memakai item di tangan kanan (senjata, alat berkebun, biji) yang sudah di-equip
X = memakai seal skill yang sudah di-equip
Y = memakai spell yang sudah di-equip (note that seal skill is not the same with magic)
R = toggle run on/off
L + A = memilih spell dari dalam inventory
L + B = memilih utility dari dalam video
L + X = memilih seal skill
L + Y = memilih magic spell

mudah atau gampang itu relatif.

Grafis : 7.5/10
arsitektur bergaya FF, keren banget. Sayang untuk design chara, RF2 lebih berkesan kekanakan daripada RF1

Sound : 8/10
Keren untuk game NDS, sudah sangat cukup.

Overall : 8/10

yah, sekali suka ya, suka. alasan lihat ke atas.

//////////////// dari sini bisa spoiler

Characters

Shujinko / Kyle : seorang pemuda yang disebut-sebut berbakat alam sebgai seorang petani, terkena amnesia dan akhirnya 'terdampar' di Alvarna.

Girls :


Mana : Main heroine, tipikal main heroine normal, yang butuh dilindungi shujinko tanpa melengket kepadanya. Merasa shujinko sebgai kakaknya (presumably)


Rosalind : bernama lengkap Rosalind de Sainte-Coquille, berkesan sebagai seorang ojou yang tidak sombong, membantah persepsi orang kebanyakan. Suka alam dan ramalan. A naive ojou is naive.


Julia : Pemilik bathhouse, seorang yang normal, kelihatannya tidak ada trait khusus. DRILL.


Alicia : Peramal, memiliki trait nee-san, kelihatannya cukup matre (hati-hati terhadap request job darinya!), bisa membantu anda mengetahui ramalan cuaca, mencari orang dan meramal cinta (20G), serta menentukan cuaca(1000G)


Yue : kimono-wearing yamato nadeshiko. seorang travel merchant (yup, kali ini kamu bisa menikahi merchant-nya!).



Cecilia : half-elf yag muncul juga di RF1!, sekarang berprofesi menjadi maid di Sainte-Coquille Estate. Mempunyai 2 sprite utama, sprite maid dan sprite normal. Kelihatannya berperan sebagai "kakak" terhadap Jake.


Dorothy : Nggak sedikitpun mirip dengan MAR's Dorothy, Dorothy yang satu ini dandere! Dengan poninya yang menutupi mata, dan memegang boneka, membuat gw teriak MOE~. Hati-hati, dia suka sama seseorang. Entar tahu sendiri kok.


Townsfolk


Douglas : Ayah Mana (sangat overprotektif dalam hal ini), pemilik toko.


Tanya : MILF chara (w00t! finally), maniak perang, dia adalah blacksmith di Alvarna.
Roy : Anak dari Tanya, teman sepermainan dari Cammy.


Natalie : Dokter, ibu dari Alicia, mempunyai sedikit masalah dengan anak perempuannya itu. MEGANEKKO


Cammy : twintail imouto chara, yang sangat lengket dengan shujinko.


Ray : TRAP! TRAP! TRAP! Anak perempuanlaki-laki Natalie. Saudara Alicia yang membantu ibunya kerja di rumah sakit.


Herman : Kepala keluarga Sainte-Coquille (untung nama keluarganya tidak sepanjang nama keluarga louise), sang cooking judge di Alvarna. Cooking judge = maniak masakan.


Max : Saudara (kakak, presumably) Rosalind, tipe ouji-sama yang flamboyan, namun idiot. Kelihatannya punya impian yang tinggi. Sangat pelupa.


Jake : half-elf yang bekerja di blacksmith. Rasis, benci terhadap manusia, selalu memanggil Shujinko dengan sebutan "human". GAR.

*skrinsut menyusul*
Egan : pemilik inn, seorang elf yang sangat suka sekali terhadap Alvarna dan keberagaman yang ada di dalamnya.


Barrett : Anak mayor, kelihatannya tidak percaya pada tuhan (mungkin ibunya meninggal?). kelihatannya dorothy suka padanya. EYEPATCH GAR.


Byron : Sang mayor dari Alvarna. Sangat menyayangi barrett, anaknya satu-satunya (paling tidak, itu yang gw tangkep dari kurang lebih 1 jam permainan).


Gordon : Priest di Alvarna Chapel (nama aslinya gw lupa), ayah dari Cammy (looks like). Orang yang happy-go-lucky dan periang, suka humor. SCAR GAR.

PS. - Disclaimer
every screenshot and text here is made by me.
no ripping without noticing me
Rian Muhamad Gifari
Find me @ Aoindonesia.net

11.21.2008

kuliah apa?

ahh

bulan udah november, sebentar lagi desember dan gw blom jelas mau kuliah apaan

penginya sih sastra atau seni rupa gitu, secara gw suka gambar dan ketik-mengetik (tulis-menulis? udah gak jaman lagi la yaw)

setelah di-list, gw nemuin beberapa jurusan yang gw trtarik untuk masuk ke dalamnya

1. sastra jepang

well, gw suka sastra, dan gw suka jepang. cocok deh. apalagi setelah gw mendengar cewek native (temennya temen gw) ngobrol sama gw make nihongo, gw makin tertarik... suaranya... MOE! MOE!

lagipula kerja di penerjemahan, baik komik, anime, film atau yang lainnya, gw suka.
jadi guru les (terutama untuk anak kecil - kukukuku)  juga bagus...
ilmunya jadi berguna banget

2. Desain Komunikasi Visual (Diskomvis - should be deskomvis, but who cares?)

gw suka gambar, terutama desain-desain, entah itu sigi, ava, hape, UI, segala macem dah! yaah, sekarang baru desain coba-coba untuk backdrop acara sekolah, sihh

3. Sinematografi

well, suka gambar + suka nulis = suka komik! yup, bener, namun apa hubungannya sama film? well, komik itu sebenarnya kan kayak storyboard... jadi bakalan lebih bagus kalau komik yang gw buat dibikin dorama (say no to shitnetron!) atau film-nya... lagipula gw pingin memajukan cikarang... dengan indonesia movieland-nya, sekaligus memajukan perfilman indonesia... sehingga orang-orang indonesia ga malu lagi kalau mamerin sinetron2nya...

4. web design

sebenarnya, gw ada sebuah ide tentang cms (content management software).. tapi gw ga bisa bikinnya... nah buat ngilangin unek-unek ya, belajar kan?

apa lagi ya?


5. Kehutanan

gw pingin mengikuti jejak bokap, melindungi hutan belantara....
tapi ga begitu boleh kayaknya, terlalu banyak intrik katanya..

6. Marketing

sejak gw kecil, ngelihat iklan di tv-tv bareng nee-san itu adalah suatu hobi. bahkan kami berlomba meng-klaim kepemilikan iklan (WTH)
dan dunia mempengaruhi pikiran orang itu menyenangkan

apa lagi ya?

XX. meteorologi

biar entar kalau ditanya orang

orang : "Kuliah apa mas"
gw "saya mempelajari langit"

LOL

11.16.2008

untuk sekolahku (tahukah anda)

Di sini kami diajari bagaimana menjadi seorang rasis
Mengejek dengan manis, berpihak dengan manis
Banyak cara juga 'tuk menjadi seorang agamis yang fanatis
Menyunggung, berkelahi, melarang, semua dengan fantastis

Mengeluh pun menjadi minuman sehari-hari, pengganti peluh
Teriakan terdengar sangat indah, bagai biola dan nyanyian
Sakit hati sudah tidak lagi terasa
Karena
Kami sudah tak punya lagi hati 'tuk merasa
Manusia

Ketika ejekan itu pembangkit tawa
Dan tawa bisa jadi bahan ejekan
Ini bukan lagi garis lurus, ini siklus
Karena di sini kami
Diajari 'tuk jadi rasis
Dan fanatis secara fantastis
Dan membuang hati,
Tanda manusia kami

11.14.2008

cerita langit malam

temanku kasihan pada sang bulan
sinarnya tertutup awan alangkah sayangnya
katanya sambil menengadahkan mukanya, serta tangannya
mencoba menggapai kekasihnya, dan membuka tabir kelam
menarikan tarian cinta sambil tertawa

diriku sendiri tidak terlalu iba pada sang rembulan
terlebih karena ku sering melihat, ditimpa kenyataan
dewi-dewi terpesona akan keindahan sang candra
padahal semenjak siang berkuasa, arak-arak awan telah menunggu mereka
ironis memang, tapi sama sekali nyata

temanku itu berkata, tidak semua dewi itu sama
beberapa ada yang berbeda, lebih suka terdiam
berharap sambil menggelengkan kepala, menolak
meninggalkan pesona cahaya malam
dan teguh tegar menunggu surya

benar juga, aku berfikir demikian
para bintang yang terdiam keheranan
tumbuhan dan hewan yang berperasaan tersimpan
dan bumi luas, yang penuh pikiran
semua butuh perhatian, semua berikan balasan

langit malam kelam hitam tak berperasaan
berlentera pantulan batu besar yang kekuningan
berhiaskan titik-titik hujan di atap cakrawala
ditemani dengan seorang teman
dan cerita aneh, romantis namun tidak keruan

11.08.2008

JIEXPO

hari : sabtu
tanggal : 8 November 2008
peserta : ivari, narqissa, p_religia, kami_yami + 1 temen lagi


overall :

pertama kami dateng langsung aja keliling-keliling, sampai pertama langsung foto-foto di stand monorail...

- saya bener-bener berharap monorail benar-benar akan ada di indonesia..

terus ke shinkansen, nonton pertunjukan 3d di sana

- selain shinkansen, juga ada tampilan berbagai musim di jepang... kalau bisa, begitu dateng langsung ke sini, karena antrian bisa sangat panjang, dan bisa membuang waktu sampai 36-46 hanya untuk menunggu antrian

begitu kami keluar, kami langsung keliling stand dan mampir di stand BJP, tapi ioze-nya g ada (kalau ga salah, lupa2 ingat)

dan melihat (saja) stand igo... pengin coba, tapi temen-temen pengin cepet

dan kami langsung ke myhobbytown, beli pernak-pernik

kita juga ga lupa melihat pertunjukan taiko

- yang main ce-ce semua loh, yg co cuma satu

lalu akhirnya kami masuk, beli makanan dan minuman

setelah beberapa lama, kami pergi nonton lomba karaoke...

tapi saya misah... sementara narqissa (dan temen-temen saya yang lain) nonton karaoke saya ke stand BJP, dan melihat stand yang ga ada ioze-nya. lalu si narqissa nelpon, bilang kalau grup yang nyanyi hare2 yukai mau tampil, akhirnya saya balik lagi nonton

dan saya menggila, nari hare hare yukai sendiri

setelah itu selesai, saya balik ke stand BJP lagi... ioze-nya masih g ada... akhirnya saya jaga stand deh brg hunter (mod indomanga) sama seorang lagi (lupa nanya namanya)

akhirnya, ioze balik, terus dia pergi lagi (brg kanojonya )... akhirnya saya pun balik nonton karaoke...

ngelihat seorang co menyanyi aitakatta dari akb48 - GAR moment!
nicknya eruuru (ada yg kenal ga)

dan akhirnya keliling-keliling lagi...

dan pulang deh...

foto :

saya & narqissa


koinobori


orang main igo


jangan tertipu tulisan diskon 50%! +1500k


brg p_religia, kami_yami en narqissa


stand japanese animation studio


moe is GAR anyway


NHK ni youkoso


no comment


para peserta lomba karaoke


strap haruhiism


baju sahabat (gw ke expo sebenarnya buat minta vaksin )


ijou!

impian

IMPIAN


Badai pasti berlalu
Tapi tidak di negeri kami


Di sini, di dalam mata topan
Tubuh kami rontok meronta
Menggigil kedinginan pun tak bisa


Kaki kami terpaku, terbelit rantai dan atap
Di tempat lain, badai melewati
Singgah sebentar, lalu ia pun pergi
Tapi di sini, di tempat kami
Di tempat di mana nyawa kami
Tertiup terbawa angin suci
Dan keajaiban terbang adalah ingatan terakhir kami
Badai selalu tinggal, tak pernah pergi
Terbawa mati, terbawa mimpi, dari puncak kepala
Sampai ke ujung kaki



Kamar C-15, 6 November 20:39:27

11.06.2008

Yankee Chapter 2/3 of Chapter 1

TOK-TOK-TOK.

“Nanda! Bangun!”

“Iya-iya Ma, segera!”

Seorang anak lelaki beranjak dari tidurnya, dan langsung bergegas membersihkan tempat tidur yang terlihat berantakan itu. Pemandangan di luar masih bisa belum terlalu terang, terlebih pada masa-masa sekarang ini, saat matahari ada di selatan, dan waktu malam menjadi lebih singkat karenanya.

Segera ia pergi ke meja belajarnya, mengambil beberapa buku lalu memasukkannya ke tas sekolah biru yang saat itu masih tergeletak di atas lantai kamar kecil di tingkat kedua ruko kecil di pinggir jalan itu.

“Mama? Jam berapa sekarang? Toko masih belum dibuka?” Anak lelaki yang sepertinya bernama Nanda itu turun dengan langkah-langkah kecil yang cepat menuruni tangga rumahnya.

“Sekarang masih jam setengah lima, Nanda. Kamu sholatlah dulu. Lalu bantu mama buka toko.”

“Oh ya Ma, hari ini aku mulai sekolah lagi. Mama udah tahu kan?” Nanda memutar kenop pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.

“Iya, iya. Tapi jangan lupa sapu toko dan bersihkan kamarmu! Kamu juga sudah kerjakan semua tugasmu kan? Kalau kamu sampai dimarahi ibu guru lagi, Mama tidak akan memaafkanmu! Percuma dong nanti semua uang yang sudah Mama keluarkan untuk membayar biaya sekolahmu.”

“Tenang aja deh Ma, aku nggak akan mengecewakanmu kok!”
Mama Nanda melanjutkan pekerjaannya di dapur yang terhenti sejenak ketika ia harus menjawab pertanyaan anaknya. Kiranya ibu rumah tangga yang satu ini tidak terlalu bisa multi-tasking.

“Ma, handukku di mana?” Nanda keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang masih basah, bekas air wudhu yang baru saja ia ambil.

“Di jemuran, Nanda! Ambil sendiri ya. Mama lagi sibuk masak.”

“Emangnya Mama masak apa?”

“Cuma telur dadar aja kok.”

“Ya udah ya Ma, aku sholat dulu.” Cepat-cepat Nanda naik kembali ke tingkat dua, menuju balkon dan mengambil handuknya lalu mengeringkan wajah dan rambutnya yang masih basah. Setelah selesai ia langsung menuju ke kamarnya, memakai sarung dan melaksanakan sholat Subuh.

“Ma, teras sama lantai toko udah aku sapu. Etalase dan barang-barang juga udah aku rapikan. Aku sarapan dulu ya.”

“Makanlah! Tapi jangan lama-lama, nanti kamu telat datang ke sekolah.” Ujar Mama Nanda dengan sedikit kekhawatiran.

“Ok, Ma!” Nanda pun makan telor dadar dengan nasi hangat yang ada sambil menonton televisi. Sedikit tidak terduga dari penampilannya yang sedikit kurus, nafsu makannya besar. Hal ini bisa dilihat dari nasinya yang menumpuk tinggi di atas piring melamin dan gerakan tangannya yang cepat dan tangkas dalam memasukkan makanan ke mulutnya. Begitu juga dengan kunyahannya.

“Ma, aku pergi dulu!”

“Hati-hati di jalan ya!”

Nanda menaiki sepedanya, menyusuri jalan tanah yang lurus langsung menghubungkan rumahnya dengan sekolah menengah atas tempatnya ia bersekolah. Di sisi jalan selang seling terdapat rumah warga, gardu penjagaan dan kebun pisang. Nanda mengayuh sepedanya dengan santai, karena jarak antara sekolah dan rumahnya memang tidaklah terlalu jauh.

“Kira-kira anak di kelasku bakalan bertambah, nggak ya?” Sambil mengayuh pedal sepeda baru hadiah kenaikan kelas yang diberikan ayahnya, Nanda memikirkan banyak hal. Dari kemungkinan kedatangan siswa baru ke sekolahnya, tentang kemungkinan calon kepala pulau favoritnya untuk terpilih, sampai pada kemungkinan Bumi untuk mendapatkan kembali empat puluh persen lautannya yang hilang terserap oleh lapisan mantel litosfer.

***

Seorang anak perempuan bernama Ko, sedang memandang pantulan dirinya di depan kaca besar di kamar orang tuanya. Hanya memakai piyama, ia mulai memperhatikan semua titik yang tidak tertutup kain, hanya untuk menemukan benjolan-benjolan merah kecil yang lebih kecil dari bulir beras, tersebar di sekujur lengan dan di leher bagian bawahnya.

Maju ke depan, ia pun mendekatkan wajahnya ke cermin, dan mengusap wajah yang mungil itu dengan kedua telapak tangannya yang untung saja tidak penuh dengan benjolan merah yang aneh juga.

“Kucing. Anjing. Kakaktua. Merpati, cicak, makanan laut. Serbuk bunga, debu dan apa lagi ya?” Dengan nada sedikit penuh rasa frustasi, anak itu mulai bicara.

“Kenapa sih aku punya begitu banyak alergi terhadap sesuatu? Bahkan terhadap segala sesuatu mungkin. Kenapa ya…”

“KO!”

“I-iya, Adam. Kenapa?” Sontak Ko tersadar dari lamunannya.

“Melamun apa sih, Ko? Kayaknya seru banget sampai omongan kami berdua nggak kamu dengar.” Mulai Adam langsung.

“ Iya nih, Ko. Masa pada hari pertama kita sekolah lagi pikiranmu sudah entah ke mana perginya. Liburnya kurang ya? Hehehe. Menurutku sih iya.” Lanjut Adam.

“Sekarang kodok. Apa lagi nantinya?” Gumam Ko kecil, sedikit sulit untuk ditangkap.

“Hah? Ngomong apa sih, Ko?” Nanda bertanya balik, memastikan ucapan Ko yang memang susah didengar.

“He? Nanda? Kapan datang?”

“Ya ampun, Ko! Tadi kan kamu duluan yang nyapa aku. Masa sekarang kamu jadi seolah nggak sadar aku ada di sini?” Nanda menaruh kepalanya ke atas meja, lalu sambil setengah menutup matanya, menoleh ke arah kanan, ke tempat Ko duduk.

“I-iya ya? A-aku lupa. Maaf.”

“Ya udahlah, bukan masalah besar kok. Bukan masalah, malahan. Kamu memang kadang-kadang suka melamun nggak jelas kayak gitu sih. Aku juga udah terbiasa jadinya.”

“Iya loh Ko. Kenapa sih kamu suka melamun?” Giliran Adam bertanya.

“Nggak apa-apa kok. Mungkin memang akunya yang suka nggak jelas. Hihi sori.”

Lain dengan suasana kelas setengah jam yang lalu, sedikit demi sedikit kegembiraan mulai masuk dan menyelimuti ruangan kelas ini, meskipun cuma tiga anak yang terkumpul.

“Adam, kucingmu gimana? Baik-baik sajakah? Gimana dengan anak-anaknya? Kamu bilang baru saja lahir, kan?” Ko bertanya.

“Ya, gimana bilangnya ya? Entah kenapa dia malas menyusui anak-anaknya. Jadi aku kasih saja bayi-bayi kucing kecil itu susu sapi.” Adam menggaruk-garuk kepalanya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Sepertinya ia agak gugup.

“Apa? Susu sapi? Jangan!”

“Kenapa?”

“Lambung bayi-bayi mungil itu nggak bakalan kuat! Daripada itu mendingan kamu periksakan induknya aja. Jangan malah merugikan mereka!”

“Be-begitu ya? A-aku nggak tahu.”

“Ko, kamu tahu banyak ya, soal binatang.” Nanda tiba-tiba menimpali pembicaraan antara Adam dan Ko.

“Soalnya ini cita-citaku. Cita-citaku yang kedua.”

“Ooh, jadi dokter hewan ya? Yang pertama apa?” Nanda mencoba menebak.

“Iya, dokter hewan itu cita-citaku yang kedua. Aku sangat suka hewan dan nggak ingin mereka terluka atau menderita sedikit pun.”

“Ironis ya Ko. Kamu kan mudah terkena alergi pada hewan.” Kali ini Adam yang menimpali.

“Aku nggak peduli. Lebih baik aku yang menderita daripada mereka.”

“Ko?”

“Kenapa, Nda?”

“Kalau cita-citamu yang pertama apa? Yang menurutmu lebih penting daripada menjadi seorang dokter hewan?”

“Aku ingin jadi peneliti. Lalu aku mau menemukan obat anti alergi. Hatsyi!”

“Kenapa, Ko?” Adam dan Nanda serempak bertanya.

“Hihi. Serbuk bunga.” Ko tersenyum di balik bersinnya.

11.01.2008

Lomba Debat TarQ 2 End

wah

akhirnya kami selesai juga menjalani lomba debat yang sudah berlangsung selama 3 hari ini.

pada hari kedua, gw dan temen-temen ngelawan 2 SMA, Ipeka Tomang dan Sang Timur tim B

waktu ngelawan IpTo, kami dapet mosi tentang outsourcing, dan kebetulan (atau keberuntungan gw, yang sudah terbukti dengan 6 pengambilan mosi yang memihak tim gw, berturut-turut) kami dapet posisi kontra.

tim kami yang sebelumnya dibilang cukup tidak kompak, saat itu sudah berubah menjadi tim yang kompak. sedangkan tim lawan sebaliknya. pemimpin mereka (kelihatannya) yang sangatlah mengerti tentang mosi tersebut jadi mendominasi dan rekan tim mereka bahkan tidak punya giliran sekalipun dalam bagian debat bebas.

akhirnya debat berjalan seimbang, hanya saja karena kami jauh lebih kompak dan mosi menguntungkan kami, kami pun menang.

lalu, debat kedua kami hari itu berjalan cukup tegang dengan tim SangTi sebagai tim kontra dan kita tim pro atas mosi tentang kelas akselerasi..

debat berjalan sangat hebat, kita semua, baik tim kami dan tim lawan sama-sama kompak dalam melakukan tugas kami. namun akhirnya keputusan split decision dari tim juri membuat kami harus mengakui keunggulan tim lawan. secara victory point, tim lawan menang dengan nilai akhir 2:1, namun kami menang 4 angka dalam hal poin penilaian secara keseluruhan.

debat hari kedua pun berakhir dengan 8 tim yang lulus yaitu ;

SangTi A & B, Tarakanita 2 A & B, PHS (tim kami), dan Dwi Warna A.

dan trererererereng debat hari ketiga pun dataaaangg

debat hari ini tidak bersistem pool seperti kemarin, namun bersistem round robin, di mana tim yang kalah akan gugur.

pada babak perempat final kami melawan tim TarQ 2 B, dalam mosi tentang asuransi. kami mendapat posisi kontra.

akhirnya setelah debat selama kurang lebih 20 menit berlangsung, kami bisa memenangkan debat tersebut.

lalu kami melawan tim SangTi B yang kemarin melawan dan mengalahkan tim kami. debat kami kali ini tentang baju koruptor. kami dapat posisi kontra dan mereka pro. seperti biasa, tim SangTi memang hebat. kami dikalahkan mereka lagi, meskipun lagi-lagi jarak poinnya tidak begitu jauh.

dan tim kami pun memasuki babak final (tapi sayangnya bukan untuk menentukan juara 2 atau juara satu) untuk menentukan juara tiga. kami melawan tim dari SMA TarQ 2 A, dalam mosi tentang pembatasan investasi pasar modal.

wah gw yang sewaktu liburan kebetulan banyak merhatiin berita tentang krisis ekonomi global, langsung babat tim lawan! begitu pula teman-teman setim gw. bahkan tim kami pada akhirnya menguasai jalannya debat.

alhasil, juri pun menetapkan pilihan mereka, mutlak 3:0 atas tim kami. dapet deh juara ketiga...

btw, traktirannya entar aja ya soalnya hadiahnya belum turun hehehehe

10.30.2008

Lomba Debat di Tar-Q 2 #2

Alhamdulillah...

Wuss, akhirnya selesai juga pertandingan pertama lomba debat di TarQ hari ini... Kami (anugerah, saya, agung dan kak citra) sampai di sana jam 12-an, dan buset dah, walaupun parkirannya sagadang aba, tetep aja gak dapet parkiran!

nah, untunglah setelah muter dan istirahat sebentar, kami dapet parkiran, yang lumayan strategis...

udah, skip aja ke bagian lombanya, ya?

pertama kali kami melawan tim debat dari SMA Permai B, dengan mosi "Setujukah Anda dengan pemblokiran situs porno oleh ISP?". dan kami dapet posisi pro (sesuai perkiraanku, tepat 100% - prosesnya entar aja ya...)

wah gw yang sangat "ahli" tentang hal-hal seperti itu, langsung saja berapi-api!

nah, masalahnya, tim kami malah jadi melenceng dari mosi..

untunglah akhirnya tim kami menang...

nah, waktu itu, kami ketemu teman-teman dari SMA Sang Timur, yang tahun kemarin mengalahkan kami..

akhirnya kami ngobrol deh..

nah, serunya, waktu gw ngelihat tim mereka bertanding, gw kira tim mereka bakalan menang (btw, mosinya tentang "setujukah anda tentang penaikan biaya impor barang cina ke indonesia?")..

tapi ternyata juri berkata lain...

juri (yang cuma seorang) memenangkan tim lawan, yaitu SMA tarakanita 2 B!!!

dan saya, sebagai teman mereka, tentu saja merasa..

lega

Lomba Debat di Tar-Q 2 #1

well, sekarang gw lagi ada di jalan menuju tarakanita 2, buat lomba debat bahasa indonesia yang diadain SMU itu. gw berangkat bareng 2 temen sekelas gw, kak citra (why kak? because he was in the upper grade. tapi karena dia ikut pertukaran pelajar selama tahun ketiganya, dia harus ngulangi kelas 3, tentu saja biar bisa lulus...) anugerah, dan teman gw sesama pengambil jurusan IPA di kelas 3 sMA, agung.

masalahnya itu kami sekarang sedang mid semester!

nah, untung karena ada persetujuan dari sekolah (dan keberuntungan-keberuntungan lainnya) kami bisa mengikuti acara ini dengan (insyalllah) lancaaarrr...

doakan yah!

btw, mosinya banyak banget!

dari sosial, politik, pendidikan sampai ekonomi dan lain-lain

10.29.2008

Photography #1



comments are highly appreciated

Mataku Sakit

MATAKU SAKIT

Mataku selalu memandangnya dari kejauhan.
Apa pun yang terjadi, mendua, kabar burung, entah kenapa hati ini tidak pernah sakit dibuatnya.
Tak ada rasa cemburu.
Apa benar ini rasa cinta yang sebenarnya?

Mataku sakit. Entah sudah berapa lama sejak organ optikku ini tertusuk tongkat pramuka waktu aku latihan kemarin. Benar juga. Baru kemarin anak-anak ekskul pramuka di sekolahku berlatih, tapi entah kenapa sudah terasa sangat lama. Benar-benar sudah terasa sangat lama. Apa karena begitu banyak hal yang telah terjadi, kemarin?

Ya, aku melihatnya duduk berdua dengan seorang pria. Dia? Dia bukan pacarku. Sahabat baik pun tidak. Cemburu? Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak punya secuil pun hak untuk cemburu, karena sekali lagi, dia bukan pacarku. Sahabat pun tidak.

Mataku sakit. Kemarin malam setelah latihan selesai dan aku kembali pulang ke rumah, Ibu memarahiku. Pulang telat, itu sebabnya. Aku sendiri juga mungkin sedang linglung waktu itu. Seharusnya aku bisa pulang naik kendaraan umum. Sebut saja, angkot, becak, ojek, bus kota. Namun kemarin sore aku pulang jalan kaki meskipun aku sudah sangat mengerti akan betapa jauhnya jarak dari sekolah ke rumahku.

Sebelum aku berangkat, dia menawariku untuk pulang bersama. Kenapa? Pastinya bukan karena ada sesuatu yang khusus antara aku dan dia. Sebenarnya, kejadian tertusuknya mataku dengan tongkat adalah karena kecerobohannya. Jadi mungkin dia menawariku untuk pulang karena ada perasaan bersalah dan belas kasihan yag mengusiknya. Namun sayangnya aku tidak menerima maksud baiknya itu. Aku harus pulang jalan kaki sore ini.

Mataku sakit. Setelah Ibu memarahiku, aku dibawa ke seorang dokter mata kenalan keluargaku karena Ibu melihat sebercak darah di bagian putih mataku, walaupun untung saja tidak sampai mengenai kejernihan hitam mataku. Tapi aku menolak ajakan ibu karena sebelum pulang, aku sudah dibawa ke tempatnya oleh pembina ekskulku.

Sang dokter adalah seorang yang sangat baik dan hubunganku lumayan dekat dengannya. Aku pun sering curhat dengannya kalau kami bertemu. Ya, tempat prakteknya sangatlah dekat dengan sekolahku.

Mataku sakit. Kata dokter darah ini akan hilang dengan cepat seiring waktu. Tapi ia menanyaiku tentang air mata yang berlinang di pipi kiriku padahal mata kanankulah yang terkena tongkat itu. Kenapa kau menangis, tanyanya.

Mataku sakit, dok.

Finding Her... (1)



Wesss
Cakep banget cewek di foto atas!


well, itu osananajimiku

dia pindah sekolah setelah kelas 1 SMP waktu gw (sama dia, tentunya) masih di SMP 3 jember...

waktu itu sih gw masih bodoh.. (bener-bener stupid lah. belum ngerti apa-apa soal hidup)...

nah suatu saat dia pernah nangis. kenapa gw juga gak begitu tahu sebabnya. hanya aja gw langsung aja bilang (secara bodohnya)

"Kalau mau, panggil aku kakak aja mulai sekarang. Kan kamu lebih muda juga daripada aku. hehehe."

shit.

nah runyamnya, ternyata, waktu itu, benih-benih cinta tengah bersemi di hati seorang pemuda (yeah, you're right. it is me.)

nah gw waktu itu sering banget digodain kakak (kakak gw ama gw satu sekolah) dan juga digodain temen-temen, nah gw simpen aja tuh feeling

sampai tiba-tiba dy pindah sekolah...

shit. now i said shit twice in a single post. (hey! that's three times!)

to be continued...

10.28.2008

Yankee 1/3 of Chapter 1

Satu - Pencarian

“Huff… Huff…” Aku terengah-engah kelelahan. Suatu hal yang sangat aneh karena tidak seharusnya aku mudah menjadi lelah seperti sekarang. Pasti ada sesuatu pada udara desa ini.

“Apa kita sudah aman sekarang? Nggak pernah kusangka, ternyata seluruh penduduk desa adalah… Huff… Huff…” Aku belum bisa membetulkan ritme nafasku. Benar-benar kalah aku sekarang ini.

“Pak, apa yang harus kita lakukan?”

“Untuk sekarang, sembunyi. Begitu kita dapat mengambil kembali dua temanmu yang lain, baru kita pikirkan langkah kita selanjutnya.”

“Tapi kita nggak mungkin sembunyi terus selamanya, kan?”

“Kau pikir aku mau? Sudah tenanglah! Kalau aku juga sampai panik juga sepertimu, habislah kita.”

“Ma-maaf, Pak.”

Lorong pasar malam hari seakan menjadi pengawas yang diam atas
pengejaranku kali ini. Waktu sudah mau melewati hari, dan keadaanku masih belum sepenuhnya tenang. Sekarang pun bekas kios-kios kaki lima tetap menjadi saksi atas sesuatu yang biasanya aku lakukan setiap hari.

Pembersihan.

Namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Sesuatu yang kecil sebenarnya, cuma perbedaan yang sederhana antara subjek dan objek.

Ya, ada satu perbedaan.

Kali ini akulah yang jadi targetnya.

***

Cripiipririripriiii.

“Haah.” Aku menguap lebar, seperti kucingku dulu yang sekarang sudah meninggal.

Nggak terasa. Rasanya baru kemarin aku meninggalkan asrama di daratan utama dan menaiki kapal melewati Selat Besar Hindia. Sekarang juga sudah pagi ketiga aku terbangun di Jawa 5, pulau yang baru tumbuh sekitar 80 tahun yang lalu ini.

Ya. Perbedaannya cuma dua hari. Aku tahu itu.

Sekarang hari Senin, dan saatnya tahun ajaran baru dimulai di desa baru bernama Tensity yang merupakan area yang telah diklaim Southern Movement ini. Dan itu juga berarti ini hari pertamaku menjadi guru di sekolah menengah atasnya.

“Seperti yang mungkin telah kalian ketahui dan lihat sendiri, Bumi terdiri dari 70 persen daratan dengan laju pertumbuhan rata-rata pulaunya sebesar lima ratus hektar per tahun. Dan dengan ini, dikhawatirkan dalam tidak lebih dari sekitar dua ratus tahun lagi, Bumi kita ini akan sepenuhnya tertutup oleh daratan.”

Ekh.

“Sementara hasil riset para ilmuwan dan kerja sama yang baik yang dilakukan oleh semua negara baik besar maupun kecil di dunia ini mampu mempertahankan iklim paling tidak sampai batas minimal yang dapat diterima manusia, perubahan temperatur yang sangat besar antara siang dan malam karena Bumi kehilangan sebagian besar lautannya yang berfungsi sebagai penyangga suhu membuat kehidupan sangatlah tidak nyaman.”

Aduh, apa yang barusan aku katakan terlalu berbelit-belit dan seperti teman-temanku bilang, tanpa spasi, ya? Kalau pekerjaan lain aku sudah banyak melakukan, tapi ini kali pertama aku bertugas menjadi guru. Masih lebih baik berurusan dengan kakek-kakek direktur yang super bawel atau dengan mutasi singa yang tingginya tiga meter daripada dengan siswa SMA.

Ya, daripada dengan siswa SMA yang menurutku, physically active but mentally retarded. Ya, dengan siswa SMA yang bertindak sebelum berpikir, ditenagai oleh rasa persahabatan dan juga cinta atau apalah itu, dan bersemangat tinggi juga penuh gejolak masa muda.

“Semoga nanti muridku nggak ada yang menderita stagnasi. Minimal.” Aku bicara pada diriku sendiri, berharap.

Apalagi yang aku tahu mereka, para anak SMA bisa dengan mudah mengayunkan kapak ke guru mereka sendiri sambil tertawa lebar, dan mampu menusuk dan menggorok seseorang dengan gergaji hanya dengan alasan cemburu, dan banyak melakukan praktek bullying yang menurutku sangat tidak manusiawi.

Aku yang tak pernah punya masa-masa seperti itu sejak memasuki ‘Asrama’ masih tidak habis pikir.

Ah, sudah cukup berpikirnya, sekarang waktunya mandi, dan menyiapkan dokumen-dokumen yang nanti mau aku pakai. Silabus, sudah. RP, sudah. Semoga tidak ada lagi yang ketinggalan.

Kulihat sekelilingku, kamar yang masih berantakan karena belum sepenuhnya kurapikan sejak Jumat sore lalu aku sampai di sini, kasur yang telah datang sebelumnya pun belum kupasangi seprai. Cuma meja kerjaku saja yang menunjukkan tanda-tanda kemiripan dengan kamar-kamar orang lain, dengan penataan buku yang cukup rapi paling tidak bagiku, dan komputer yang masih menyala.

Komputer? Ya, aku harus memasukkan antrianku dulu.

Baiklah, antrian sudah mulai bekerja, kiranya nggak ada lagi yang aku lupakan, semoga. Di hari pertama ini aku harus meninggalkan kesan yang baik, apalagi saat pengenalan diri, baik kepada sesama guru maupun kepada murid-muridku nantinya. Ya, aku harus profesional namun tetap santai.

“Aku harus bisa menjadi guru yang terlihat keren! Tunggu aku, Onizuka!”
Ups. Tapi aku belum mandi.

***

“Katanya tahun ajaran ini ada guru baru untuk pelajaran Sains ya? Pinter nggak ya?” Seorang anak laki-laki yang berambut tidak terlalu panjang memutar-mutar pensilnya sambil duduk di atas meja. Mukanya berseri-seri seakan senang karena tugas kesenian dari gurunya telah selesai ia lakukan, dengan sangat sukses dan hasilnya juga bagus.

“Kamu tahu sendiri kan kalau sudah dua bulan ini kita tidak mendapat pelajaran Sains dengan baik?” Kelihatannya anak tadi bertanya kepada orang lain.

Namun aneh, tidak ada orang di dalam kelas tempat ia berada sekarang. Kelas yang sepi, bersih, namun justru karena itu seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan sebentuk makhluk pun di dalamnya. Papan tulis hitam yang minim goresan, dan bubuk kapur di bawahnya yang entah kenapa tidak disapu dan menumpuk meskipun bagian lainnya bersih. Jendelanya yang setengah terbuka membiarkan matahari pagi menebarkan sinarnya dengan rata. Kelas ini sebenarnya rapi, bersih, juga terang. Namun terlalu sendirian.

“Iya, iya aku tahu. Tapi kenapa sih kamu selalu suka dengan pelajaran Sains yang terlalu berbelit-belit itu? Aku nggak habis pikir, Adam.” Tiba-tiba anak laki-laki itu menaruh pensilnya lalu bicara, dengan nada yang berbeda seakan-akan dia adalah orang lain.

“Ann, sains itu penting! Nggak kayak pelajaran lainnya, cuma Sains yang bisa ngejelasin kenapa Bumi kita ini tumbuh!” Diambilnya lagi pensil di atas mejanya itu, sambil sekali lagi memutar-mutarnya.

“Tapi selama ini nilaimu semua juga jelek, kan?” Setengah berdebat pada dirinya sendiri, anak laki-laki itu tiba-tiba membentak kepada udara kosong.

“Makanya aku belajar, Ann. Nggak kayak kamu, setiap kali kita gantian, terutama pada jam pelajaran, kau pasti bikin aku malu.”

PLETAK!

“Nggak usah bawel, deh.” Anak laki-laki yang bicara sendiri itu memukul kepalanya dengan sebuah buku tebal, sepertinya sebuah kamus istilah-istilah biologi.

“Sakit, Ann!” Sambil menggerutu kesakitan ia mengusap-usap kepalanya.

“Makanya, jangan bawel kalau jadi orang! Memangnya aku juga semau itu mukul kepalaku sendiri cuma untuk bikin kamu tenang sedikit? Kepalaku ini juga jadi ikutan sakit, Adam!”

“Terus kenapa? Kenapa dipukul? Aku kan cuma bilang kalau aku suka sains. Itu aja.”

“Tapi, tapi kamu bilang aku malu-maluin! Makanya aku marah!”

“Ya ampun, gitu aja marah!”

PLETAK!

“Udah, jangan bawel, Adam jelek!”

“Ann…” Sepertinya anak laki-laki itu berhenti berdebat dengan sesuatu yang ia panggil ‘Anna’ tadi, dan kini ia memulai bergumam sambil lagi-lagi memutar-mutar pensilnya.

“Jangan berpikir macam-macam tentangku ya, Adam.”

“Iya, Ann.”

Suasana kelas tempat anak laki-laki itu duduk masih belum berubah, sepi tanpa kehidupan. Angin masuk dari celah jendela yang sempit, mengisi kekosongan yang ditinggalkan sinar panas matahari dengan sedikit nuansa segar kawasan selatan Bumi.

“Ingat ya A-“

KRIIEETT.

Pintu kelas itu terbuka kecil dan mengejutkan, tapi anak laki-laki itu tidak sedikit pun menunjukkan reaksi kaget. Kelihatannya ia sudah terbiasa atas hal ini.

“Ko? Itu kamu ya?”

Tidak ada jawaban.

“Masuk aja, Ko!”

“Hatsyi! Pagi, er-“

Dari balik pintu masuklah seorang anak perempuan yang sepertinya mempunyai panggilan ‘Ko’. Tubuhnya tidak tinggi walaupun tidak termasuk pendek. Rambut hitam pekatnya melambai pendek dari balik kupluk coklat yang menutupi setengah bagian kepalanya. Hanya seorang gadis biasa, kecuali dengan jaket tebal, syal dan masker yang ia pakai. Terlalu rapat untuk cuaca sepanas hari ini.

“Adam. Hari ini aku Adam. Masa kamu lupa jadwalku sih? Kan kamu yang buat?”

“Pagi, Adam.Hatsyi!”

“Alergi lagi? Kenapa?”

“Kodok.”

“He, kodok juga ya? Di mana?”

“Dekat rumah Nanda. Sebelahnya.”