10.30.2008

Lomba Debat di Tar-Q 2 #2

Alhamdulillah...

Wuss, akhirnya selesai juga pertandingan pertama lomba debat di TarQ hari ini... Kami (anugerah, saya, agung dan kak citra) sampai di sana jam 12-an, dan buset dah, walaupun parkirannya sagadang aba, tetep aja gak dapet parkiran!

nah, untunglah setelah muter dan istirahat sebentar, kami dapet parkiran, yang lumayan strategis...

udah, skip aja ke bagian lombanya, ya?

pertama kali kami melawan tim debat dari SMA Permai B, dengan mosi "Setujukah Anda dengan pemblokiran situs porno oleh ISP?". dan kami dapet posisi pro (sesuai perkiraanku, tepat 100% - prosesnya entar aja ya...)

wah gw yang sangat "ahli" tentang hal-hal seperti itu, langsung saja berapi-api!

nah, masalahnya, tim kami malah jadi melenceng dari mosi..

untunglah akhirnya tim kami menang...

nah, waktu itu, kami ketemu teman-teman dari SMA Sang Timur, yang tahun kemarin mengalahkan kami..

akhirnya kami ngobrol deh..

nah, serunya, waktu gw ngelihat tim mereka bertanding, gw kira tim mereka bakalan menang (btw, mosinya tentang "setujukah anda tentang penaikan biaya impor barang cina ke indonesia?")..

tapi ternyata juri berkata lain...

juri (yang cuma seorang) memenangkan tim lawan, yaitu SMA tarakanita 2 B!!!

dan saya, sebagai teman mereka, tentu saja merasa..

lega

Lomba Debat di Tar-Q 2 #1

well, sekarang gw lagi ada di jalan menuju tarakanita 2, buat lomba debat bahasa indonesia yang diadain SMU itu. gw berangkat bareng 2 temen sekelas gw, kak citra (why kak? because he was in the upper grade. tapi karena dia ikut pertukaran pelajar selama tahun ketiganya, dia harus ngulangi kelas 3, tentu saja biar bisa lulus...) anugerah, dan teman gw sesama pengambil jurusan IPA di kelas 3 sMA, agung.

masalahnya itu kami sekarang sedang mid semester!

nah, untung karena ada persetujuan dari sekolah (dan keberuntungan-keberuntungan lainnya) kami bisa mengikuti acara ini dengan (insyalllah) lancaaarrr...

doakan yah!

btw, mosinya banyak banget!

dari sosial, politik, pendidikan sampai ekonomi dan lain-lain

10.29.2008

Photography #1



comments are highly appreciated

Mataku Sakit

MATAKU SAKIT

Mataku selalu memandangnya dari kejauhan.
Apa pun yang terjadi, mendua, kabar burung, entah kenapa hati ini tidak pernah sakit dibuatnya.
Tak ada rasa cemburu.
Apa benar ini rasa cinta yang sebenarnya?

Mataku sakit. Entah sudah berapa lama sejak organ optikku ini tertusuk tongkat pramuka waktu aku latihan kemarin. Benar juga. Baru kemarin anak-anak ekskul pramuka di sekolahku berlatih, tapi entah kenapa sudah terasa sangat lama. Benar-benar sudah terasa sangat lama. Apa karena begitu banyak hal yang telah terjadi, kemarin?

Ya, aku melihatnya duduk berdua dengan seorang pria. Dia? Dia bukan pacarku. Sahabat baik pun tidak. Cemburu? Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak punya secuil pun hak untuk cemburu, karena sekali lagi, dia bukan pacarku. Sahabat pun tidak.

Mataku sakit. Kemarin malam setelah latihan selesai dan aku kembali pulang ke rumah, Ibu memarahiku. Pulang telat, itu sebabnya. Aku sendiri juga mungkin sedang linglung waktu itu. Seharusnya aku bisa pulang naik kendaraan umum. Sebut saja, angkot, becak, ojek, bus kota. Namun kemarin sore aku pulang jalan kaki meskipun aku sudah sangat mengerti akan betapa jauhnya jarak dari sekolah ke rumahku.

Sebelum aku berangkat, dia menawariku untuk pulang bersama. Kenapa? Pastinya bukan karena ada sesuatu yang khusus antara aku dan dia. Sebenarnya, kejadian tertusuknya mataku dengan tongkat adalah karena kecerobohannya. Jadi mungkin dia menawariku untuk pulang karena ada perasaan bersalah dan belas kasihan yag mengusiknya. Namun sayangnya aku tidak menerima maksud baiknya itu. Aku harus pulang jalan kaki sore ini.

Mataku sakit. Setelah Ibu memarahiku, aku dibawa ke seorang dokter mata kenalan keluargaku karena Ibu melihat sebercak darah di bagian putih mataku, walaupun untung saja tidak sampai mengenai kejernihan hitam mataku. Tapi aku menolak ajakan ibu karena sebelum pulang, aku sudah dibawa ke tempatnya oleh pembina ekskulku.

Sang dokter adalah seorang yang sangat baik dan hubunganku lumayan dekat dengannya. Aku pun sering curhat dengannya kalau kami bertemu. Ya, tempat prakteknya sangatlah dekat dengan sekolahku.

Mataku sakit. Kata dokter darah ini akan hilang dengan cepat seiring waktu. Tapi ia menanyaiku tentang air mata yang berlinang di pipi kiriku padahal mata kanankulah yang terkena tongkat itu. Kenapa kau menangis, tanyanya.

Mataku sakit, dok.

Finding Her... (1)



Wesss
Cakep banget cewek di foto atas!


well, itu osananajimiku

dia pindah sekolah setelah kelas 1 SMP waktu gw (sama dia, tentunya) masih di SMP 3 jember...

waktu itu sih gw masih bodoh.. (bener-bener stupid lah. belum ngerti apa-apa soal hidup)...

nah suatu saat dia pernah nangis. kenapa gw juga gak begitu tahu sebabnya. hanya aja gw langsung aja bilang (secara bodohnya)

"Kalau mau, panggil aku kakak aja mulai sekarang. Kan kamu lebih muda juga daripada aku. hehehe."

shit.

nah runyamnya, ternyata, waktu itu, benih-benih cinta tengah bersemi di hati seorang pemuda (yeah, you're right. it is me.)

nah gw waktu itu sering banget digodain kakak (kakak gw ama gw satu sekolah) dan juga digodain temen-temen, nah gw simpen aja tuh feeling

sampai tiba-tiba dy pindah sekolah...

shit. now i said shit twice in a single post. (hey! that's three times!)

to be continued...

10.28.2008

Yankee 1/3 of Chapter 1

Satu - Pencarian

“Huff… Huff…” Aku terengah-engah kelelahan. Suatu hal yang sangat aneh karena tidak seharusnya aku mudah menjadi lelah seperti sekarang. Pasti ada sesuatu pada udara desa ini.

“Apa kita sudah aman sekarang? Nggak pernah kusangka, ternyata seluruh penduduk desa adalah… Huff… Huff…” Aku belum bisa membetulkan ritme nafasku. Benar-benar kalah aku sekarang ini.

“Pak, apa yang harus kita lakukan?”

“Untuk sekarang, sembunyi. Begitu kita dapat mengambil kembali dua temanmu yang lain, baru kita pikirkan langkah kita selanjutnya.”

“Tapi kita nggak mungkin sembunyi terus selamanya, kan?”

“Kau pikir aku mau? Sudah tenanglah! Kalau aku juga sampai panik juga sepertimu, habislah kita.”

“Ma-maaf, Pak.”

Lorong pasar malam hari seakan menjadi pengawas yang diam atas
pengejaranku kali ini. Waktu sudah mau melewati hari, dan keadaanku masih belum sepenuhnya tenang. Sekarang pun bekas kios-kios kaki lima tetap menjadi saksi atas sesuatu yang biasanya aku lakukan setiap hari.

Pembersihan.

Namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Sesuatu yang kecil sebenarnya, cuma perbedaan yang sederhana antara subjek dan objek.

Ya, ada satu perbedaan.

Kali ini akulah yang jadi targetnya.

***

Cripiipririripriiii.

“Haah.” Aku menguap lebar, seperti kucingku dulu yang sekarang sudah meninggal.

Nggak terasa. Rasanya baru kemarin aku meninggalkan asrama di daratan utama dan menaiki kapal melewati Selat Besar Hindia. Sekarang juga sudah pagi ketiga aku terbangun di Jawa 5, pulau yang baru tumbuh sekitar 80 tahun yang lalu ini.

Ya. Perbedaannya cuma dua hari. Aku tahu itu.

Sekarang hari Senin, dan saatnya tahun ajaran baru dimulai di desa baru bernama Tensity yang merupakan area yang telah diklaim Southern Movement ini. Dan itu juga berarti ini hari pertamaku menjadi guru di sekolah menengah atasnya.

“Seperti yang mungkin telah kalian ketahui dan lihat sendiri, Bumi terdiri dari 70 persen daratan dengan laju pertumbuhan rata-rata pulaunya sebesar lima ratus hektar per tahun. Dan dengan ini, dikhawatirkan dalam tidak lebih dari sekitar dua ratus tahun lagi, Bumi kita ini akan sepenuhnya tertutup oleh daratan.”

Ekh.

“Sementara hasil riset para ilmuwan dan kerja sama yang baik yang dilakukan oleh semua negara baik besar maupun kecil di dunia ini mampu mempertahankan iklim paling tidak sampai batas minimal yang dapat diterima manusia, perubahan temperatur yang sangat besar antara siang dan malam karena Bumi kehilangan sebagian besar lautannya yang berfungsi sebagai penyangga suhu membuat kehidupan sangatlah tidak nyaman.”

Aduh, apa yang barusan aku katakan terlalu berbelit-belit dan seperti teman-temanku bilang, tanpa spasi, ya? Kalau pekerjaan lain aku sudah banyak melakukan, tapi ini kali pertama aku bertugas menjadi guru. Masih lebih baik berurusan dengan kakek-kakek direktur yang super bawel atau dengan mutasi singa yang tingginya tiga meter daripada dengan siswa SMA.

Ya, daripada dengan siswa SMA yang menurutku, physically active but mentally retarded. Ya, dengan siswa SMA yang bertindak sebelum berpikir, ditenagai oleh rasa persahabatan dan juga cinta atau apalah itu, dan bersemangat tinggi juga penuh gejolak masa muda.

“Semoga nanti muridku nggak ada yang menderita stagnasi. Minimal.” Aku bicara pada diriku sendiri, berharap.

Apalagi yang aku tahu mereka, para anak SMA bisa dengan mudah mengayunkan kapak ke guru mereka sendiri sambil tertawa lebar, dan mampu menusuk dan menggorok seseorang dengan gergaji hanya dengan alasan cemburu, dan banyak melakukan praktek bullying yang menurutku sangat tidak manusiawi.

Aku yang tak pernah punya masa-masa seperti itu sejak memasuki ‘Asrama’ masih tidak habis pikir.

Ah, sudah cukup berpikirnya, sekarang waktunya mandi, dan menyiapkan dokumen-dokumen yang nanti mau aku pakai. Silabus, sudah. RP, sudah. Semoga tidak ada lagi yang ketinggalan.

Kulihat sekelilingku, kamar yang masih berantakan karena belum sepenuhnya kurapikan sejak Jumat sore lalu aku sampai di sini, kasur yang telah datang sebelumnya pun belum kupasangi seprai. Cuma meja kerjaku saja yang menunjukkan tanda-tanda kemiripan dengan kamar-kamar orang lain, dengan penataan buku yang cukup rapi paling tidak bagiku, dan komputer yang masih menyala.

Komputer? Ya, aku harus memasukkan antrianku dulu.

Baiklah, antrian sudah mulai bekerja, kiranya nggak ada lagi yang aku lupakan, semoga. Di hari pertama ini aku harus meninggalkan kesan yang baik, apalagi saat pengenalan diri, baik kepada sesama guru maupun kepada murid-muridku nantinya. Ya, aku harus profesional namun tetap santai.

“Aku harus bisa menjadi guru yang terlihat keren! Tunggu aku, Onizuka!”
Ups. Tapi aku belum mandi.

***

“Katanya tahun ajaran ini ada guru baru untuk pelajaran Sains ya? Pinter nggak ya?” Seorang anak laki-laki yang berambut tidak terlalu panjang memutar-mutar pensilnya sambil duduk di atas meja. Mukanya berseri-seri seakan senang karena tugas kesenian dari gurunya telah selesai ia lakukan, dengan sangat sukses dan hasilnya juga bagus.

“Kamu tahu sendiri kan kalau sudah dua bulan ini kita tidak mendapat pelajaran Sains dengan baik?” Kelihatannya anak tadi bertanya kepada orang lain.

Namun aneh, tidak ada orang di dalam kelas tempat ia berada sekarang. Kelas yang sepi, bersih, namun justru karena itu seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan sebentuk makhluk pun di dalamnya. Papan tulis hitam yang minim goresan, dan bubuk kapur di bawahnya yang entah kenapa tidak disapu dan menumpuk meskipun bagian lainnya bersih. Jendelanya yang setengah terbuka membiarkan matahari pagi menebarkan sinarnya dengan rata. Kelas ini sebenarnya rapi, bersih, juga terang. Namun terlalu sendirian.

“Iya, iya aku tahu. Tapi kenapa sih kamu selalu suka dengan pelajaran Sains yang terlalu berbelit-belit itu? Aku nggak habis pikir, Adam.” Tiba-tiba anak laki-laki itu menaruh pensilnya lalu bicara, dengan nada yang berbeda seakan-akan dia adalah orang lain.

“Ann, sains itu penting! Nggak kayak pelajaran lainnya, cuma Sains yang bisa ngejelasin kenapa Bumi kita ini tumbuh!” Diambilnya lagi pensil di atas mejanya itu, sambil sekali lagi memutar-mutarnya.

“Tapi selama ini nilaimu semua juga jelek, kan?” Setengah berdebat pada dirinya sendiri, anak laki-laki itu tiba-tiba membentak kepada udara kosong.

“Makanya aku belajar, Ann. Nggak kayak kamu, setiap kali kita gantian, terutama pada jam pelajaran, kau pasti bikin aku malu.”

PLETAK!

“Nggak usah bawel, deh.” Anak laki-laki yang bicara sendiri itu memukul kepalanya dengan sebuah buku tebal, sepertinya sebuah kamus istilah-istilah biologi.

“Sakit, Ann!” Sambil menggerutu kesakitan ia mengusap-usap kepalanya.

“Makanya, jangan bawel kalau jadi orang! Memangnya aku juga semau itu mukul kepalaku sendiri cuma untuk bikin kamu tenang sedikit? Kepalaku ini juga jadi ikutan sakit, Adam!”

“Terus kenapa? Kenapa dipukul? Aku kan cuma bilang kalau aku suka sains. Itu aja.”

“Tapi, tapi kamu bilang aku malu-maluin! Makanya aku marah!”

“Ya ampun, gitu aja marah!”

PLETAK!

“Udah, jangan bawel, Adam jelek!”

“Ann…” Sepertinya anak laki-laki itu berhenti berdebat dengan sesuatu yang ia panggil ‘Anna’ tadi, dan kini ia memulai bergumam sambil lagi-lagi memutar-mutar pensilnya.

“Jangan berpikir macam-macam tentangku ya, Adam.”

“Iya, Ann.”

Suasana kelas tempat anak laki-laki itu duduk masih belum berubah, sepi tanpa kehidupan. Angin masuk dari celah jendela yang sempit, mengisi kekosongan yang ditinggalkan sinar panas matahari dengan sedikit nuansa segar kawasan selatan Bumi.

“Ingat ya A-“

KRIIEETT.

Pintu kelas itu terbuka kecil dan mengejutkan, tapi anak laki-laki itu tidak sedikit pun menunjukkan reaksi kaget. Kelihatannya ia sudah terbiasa atas hal ini.

“Ko? Itu kamu ya?”

Tidak ada jawaban.

“Masuk aja, Ko!”

“Hatsyi! Pagi, er-“

Dari balik pintu masuklah seorang anak perempuan yang sepertinya mempunyai panggilan ‘Ko’. Tubuhnya tidak tinggi walaupun tidak termasuk pendek. Rambut hitam pekatnya melambai pendek dari balik kupluk coklat yang menutupi setengah bagian kepalanya. Hanya seorang gadis biasa, kecuali dengan jaket tebal, syal dan masker yang ia pakai. Terlalu rapat untuk cuaca sepanas hari ini.

“Adam. Hari ini aku Adam. Masa kamu lupa jadwalku sih? Kan kamu yang buat?”

“Pagi, Adam.Hatsyi!”

“Alergi lagi? Kenapa?”

“Kodok.”

“He, kodok juga ya? Di mana?”

“Dekat rumah Nanda. Sebelahnya.”