Satu - Pencarian
“Huff… Huff…” Aku terengah-engah kelelahan. Suatu hal yang sangat aneh karena tidak seharusnya aku mudah menjadi lelah seperti sekarang. Pasti ada sesuatu pada udara desa ini.
“Apa kita sudah aman sekarang? Nggak pernah kusangka, ternyata seluruh penduduk desa adalah… Huff… Huff…” Aku belum bisa membetulkan ritme nafasku. Benar-benar kalah aku sekarang ini.
“Pak, apa yang harus kita lakukan?”
“Untuk sekarang, sembunyi. Begitu kita dapat mengambil kembali dua temanmu yang lain, baru kita pikirkan langkah kita selanjutnya.”
“Tapi kita nggak mungkin sembunyi terus selamanya, kan?”
“Kau pikir aku mau? Sudah tenanglah! Kalau aku juga sampai panik juga sepertimu, habislah kita.”
“Ma-maaf, Pak.”
Lorong pasar malam hari seakan menjadi pengawas yang diam atas
pengejaranku kali ini. Waktu sudah mau melewati hari, dan keadaanku masih belum sepenuhnya tenang. Sekarang pun bekas kios-kios kaki lima tetap menjadi saksi atas sesuatu yang biasanya aku lakukan setiap hari.
Pembersihan.
Namun kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Sesuatu yang kecil sebenarnya, cuma perbedaan yang sederhana antara subjek dan objek.
Ya, ada satu perbedaan.
Kali ini akulah yang jadi targetnya.
***
Cripiipririripriiii.
“Haah.” Aku menguap lebar, seperti kucingku dulu yang sekarang sudah meninggal.
Nggak terasa. Rasanya baru kemarin aku meninggalkan asrama di daratan utama dan menaiki kapal melewati Selat Besar Hindia. Sekarang juga sudah pagi ketiga aku terbangun di Jawa 5, pulau yang baru tumbuh sekitar 80 tahun yang lalu ini.
Ya. Perbedaannya cuma dua hari. Aku tahu itu.
Sekarang hari Senin, dan saatnya tahun ajaran baru dimulai di desa baru bernama Tensity yang merupakan area yang telah diklaim Southern Movement ini. Dan itu juga berarti ini hari pertamaku menjadi guru di sekolah menengah atasnya.
“Seperti yang mungkin telah kalian ketahui dan lihat sendiri, Bumi terdiri dari 70 persen daratan dengan laju pertumbuhan rata-rata pulaunya sebesar lima ratus hektar per tahun. Dan dengan ini, dikhawatirkan dalam tidak lebih dari sekitar dua ratus tahun lagi, Bumi kita ini akan sepenuhnya tertutup oleh daratan.”
Ekh.
“Sementara hasil riset para ilmuwan dan kerja sama yang baik yang dilakukan oleh semua negara baik besar maupun kecil di dunia ini mampu mempertahankan iklim paling tidak sampai batas minimal yang dapat diterima manusia, perubahan temperatur yang sangat besar antara siang dan malam karena Bumi kehilangan sebagian besar lautannya yang berfungsi sebagai penyangga suhu membuat kehidupan sangatlah tidak nyaman.”
Aduh, apa yang barusan aku katakan terlalu berbelit-belit dan seperti teman-temanku bilang, tanpa spasi, ya? Kalau pekerjaan lain aku sudah banyak melakukan, tapi ini kali pertama aku bertugas menjadi guru. Masih lebih baik berurusan dengan kakek-kakek direktur yang super bawel atau dengan mutasi singa yang tingginya tiga meter daripada dengan siswa SMA.
Ya, daripada dengan siswa SMA yang menurutku, physically active but mentally retarded. Ya, dengan siswa SMA yang bertindak sebelum berpikir, ditenagai oleh rasa persahabatan dan juga cinta atau apalah itu, dan bersemangat tinggi juga penuh gejolak masa muda.
“Semoga nanti muridku nggak ada yang menderita stagnasi. Minimal.” Aku bicara pada diriku sendiri, berharap.
Apalagi yang aku tahu mereka, para anak SMA bisa dengan mudah mengayunkan kapak ke guru mereka sendiri sambil tertawa lebar, dan mampu menusuk dan menggorok seseorang dengan gergaji hanya dengan alasan cemburu, dan banyak melakukan praktek bullying yang menurutku sangat tidak manusiawi.
Aku yang tak pernah punya masa-masa seperti itu sejak memasuki ‘Asrama’ masih tidak habis pikir.
Ah, sudah cukup berpikirnya, sekarang waktunya mandi, dan menyiapkan dokumen-dokumen yang nanti mau aku pakai. Silabus, sudah. RP, sudah. Semoga tidak ada lagi yang ketinggalan.
Kulihat sekelilingku, kamar yang masih berantakan karena belum sepenuhnya kurapikan sejak Jumat sore lalu aku sampai di sini, kasur yang telah datang sebelumnya pun belum kupasangi seprai. Cuma meja kerjaku saja yang menunjukkan tanda-tanda kemiripan dengan kamar-kamar orang lain, dengan penataan buku yang cukup rapi paling tidak bagiku, dan komputer yang masih menyala.
Komputer? Ya, aku harus memasukkan antrianku dulu.
Baiklah, antrian sudah mulai bekerja, kiranya nggak ada lagi yang aku lupakan, semoga. Di hari pertama ini aku harus meninggalkan kesan yang baik, apalagi saat pengenalan diri, baik kepada sesama guru maupun kepada murid-muridku nantinya. Ya, aku harus profesional namun tetap santai.
“Aku harus bisa menjadi guru yang terlihat keren! Tunggu aku, Onizuka!”
Ups. Tapi aku belum mandi.
***
“Katanya tahun ajaran ini ada guru baru untuk pelajaran Sains ya? Pinter nggak ya?” Seorang anak laki-laki yang berambut tidak terlalu panjang memutar-mutar pensilnya sambil duduk di atas meja. Mukanya berseri-seri seakan senang karena tugas kesenian dari gurunya telah selesai ia lakukan, dengan sangat sukses dan hasilnya juga bagus.
“Kamu tahu sendiri kan kalau sudah dua bulan ini kita tidak mendapat pelajaran Sains dengan baik?” Kelihatannya anak tadi bertanya kepada orang lain.
Namun aneh, tidak ada orang di dalam kelas tempat ia berada sekarang. Kelas yang sepi, bersih, namun justru karena itu seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan sebentuk makhluk pun di dalamnya. Papan tulis hitam yang minim goresan, dan bubuk kapur di bawahnya yang entah kenapa tidak disapu dan menumpuk meskipun bagian lainnya bersih. Jendelanya yang setengah terbuka membiarkan matahari pagi menebarkan sinarnya dengan rata. Kelas ini sebenarnya rapi, bersih, juga terang. Namun terlalu sendirian.
“Iya, iya aku tahu. Tapi kenapa sih kamu selalu suka dengan pelajaran Sains yang terlalu berbelit-belit itu? Aku nggak habis pikir, Adam.” Tiba-tiba anak laki-laki itu menaruh pensilnya lalu bicara, dengan nada yang berbeda seakan-akan dia adalah orang lain.
“Ann, sains itu penting! Nggak kayak pelajaran lainnya, cuma Sains yang bisa ngejelasin kenapa Bumi kita ini tumbuh!” Diambilnya lagi pensil di atas mejanya itu, sambil sekali lagi memutar-mutarnya.
“Tapi selama ini nilaimu semua juga jelek, kan?” Setengah berdebat pada dirinya sendiri, anak laki-laki itu tiba-tiba membentak kepada udara kosong.
“Makanya aku belajar, Ann. Nggak kayak kamu, setiap kali kita gantian, terutama pada jam pelajaran, kau pasti bikin aku malu.”
PLETAK!
“Nggak usah bawel, deh.” Anak laki-laki yang bicara sendiri itu memukul kepalanya dengan sebuah buku tebal, sepertinya sebuah kamus istilah-istilah biologi.
“Sakit, Ann!” Sambil menggerutu kesakitan ia mengusap-usap kepalanya.
“Makanya, jangan bawel kalau jadi orang! Memangnya aku juga semau itu mukul kepalaku sendiri cuma untuk bikin kamu tenang sedikit? Kepalaku ini juga jadi ikutan sakit, Adam!”
“Terus kenapa? Kenapa dipukul? Aku kan cuma bilang kalau aku suka sains. Itu aja.”
“Tapi, tapi kamu bilang aku malu-maluin! Makanya aku marah!”
“Ya ampun, gitu aja marah!”
PLETAK!
“Udah, jangan bawel, Adam jelek!”
“Ann…” Sepertinya anak laki-laki itu berhenti berdebat dengan sesuatu yang ia panggil ‘Anna’ tadi, dan kini ia memulai bergumam sambil lagi-lagi memutar-mutar pensilnya.
“Jangan berpikir macam-macam tentangku ya, Adam.”
“Iya, Ann.”
Suasana kelas tempat anak laki-laki itu duduk masih belum berubah, sepi tanpa kehidupan. Angin masuk dari celah jendela yang sempit, mengisi kekosongan yang ditinggalkan sinar panas matahari dengan sedikit nuansa segar kawasan selatan Bumi.
“Ingat ya A-“
KRIIEETT.
Pintu kelas itu terbuka kecil dan mengejutkan, tapi anak laki-laki itu tidak sedikit pun menunjukkan reaksi kaget. Kelihatannya ia sudah terbiasa atas hal ini.
“Ko? Itu kamu ya?”
Tidak ada jawaban.
“Masuk aja, Ko!”
“Hatsyi! Pagi, er-“
Dari balik pintu masuklah seorang anak perempuan yang sepertinya mempunyai panggilan ‘Ko’. Tubuhnya tidak tinggi walaupun tidak termasuk pendek. Rambut hitam pekatnya melambai pendek dari balik kupluk coklat yang menutupi setengah bagian kepalanya. Hanya seorang gadis biasa, kecuali dengan jaket tebal, syal dan masker yang ia pakai. Terlalu rapat untuk cuaca sepanas hari ini.
“Adam. Hari ini aku Adam. Masa kamu lupa jadwalku sih? Kan kamu yang buat?”
“Pagi, Adam.Hatsyi!”
“Alergi lagi? Kenapa?”
“Kodok.”
“He, kodok juga ya? Di mana?”
“Dekat rumah Nanda. Sebelahnya.”
10.28.2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment