TOK-TOK-TOK.
“Nanda! Bangun!”
“Iya-iya Ma, segera!”
Seorang anak lelaki beranjak dari tidurnya, dan langsung bergegas membersihkan tempat tidur yang terlihat berantakan itu. Pemandangan di luar masih bisa belum terlalu terang, terlebih pada masa-masa sekarang ini, saat matahari ada di selatan, dan waktu malam menjadi lebih singkat karenanya.
Segera ia pergi ke meja belajarnya, mengambil beberapa buku lalu memasukkannya ke tas sekolah biru yang saat itu masih tergeletak di atas lantai kamar kecil di tingkat kedua ruko kecil di pinggir jalan itu.
“Mama? Jam berapa sekarang? Toko masih belum dibuka?” Anak lelaki yang sepertinya bernama Nanda itu turun dengan langkah-langkah kecil yang cepat menuruni tangga rumahnya.
“Sekarang masih jam setengah lima, Nanda. Kamu sholatlah dulu. Lalu bantu mama buka toko.”
“Oh ya Ma, hari ini aku mulai sekolah lagi. Mama udah tahu kan?” Nanda memutar kenop pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
“Iya, iya. Tapi jangan lupa sapu toko dan bersihkan kamarmu! Kamu juga sudah kerjakan semua tugasmu kan? Kalau kamu sampai dimarahi ibu guru lagi, Mama tidak akan memaafkanmu! Percuma dong nanti semua uang yang sudah Mama keluarkan untuk membayar biaya sekolahmu.”
“Tenang aja deh Ma, aku nggak akan mengecewakanmu kok!”
Mama Nanda melanjutkan pekerjaannya di dapur yang terhenti sejenak ketika ia harus menjawab pertanyaan anaknya. Kiranya ibu rumah tangga yang satu ini tidak terlalu bisa multi-tasking.
“Ma, handukku di mana?” Nanda keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambut yang masih basah, bekas air wudhu yang baru saja ia ambil.
“Di jemuran, Nanda! Ambil sendiri ya. Mama lagi sibuk masak.”
“Emangnya Mama masak apa?”
“Cuma telur dadar aja kok.”
“Ya udah ya Ma, aku sholat dulu.” Cepat-cepat Nanda naik kembali ke tingkat dua, menuju balkon dan mengambil handuknya lalu mengeringkan wajah dan rambutnya yang masih basah. Setelah selesai ia langsung menuju ke kamarnya, memakai sarung dan melaksanakan sholat Subuh.
“Ma, teras sama lantai toko udah aku sapu. Etalase dan barang-barang juga udah aku rapikan. Aku sarapan dulu ya.”
“Makanlah! Tapi jangan lama-lama, nanti kamu telat datang ke sekolah.” Ujar Mama Nanda dengan sedikit kekhawatiran.
“Ok, Ma!” Nanda pun makan telor dadar dengan nasi hangat yang ada sambil menonton televisi. Sedikit tidak terduga dari penampilannya yang sedikit kurus, nafsu makannya besar. Hal ini bisa dilihat dari nasinya yang menumpuk tinggi di atas piring melamin dan gerakan tangannya yang cepat dan tangkas dalam memasukkan makanan ke mulutnya. Begitu juga dengan kunyahannya.
“Ma, aku pergi dulu!”
“Hati-hati di jalan ya!”
Nanda menaiki sepedanya, menyusuri jalan tanah yang lurus langsung menghubungkan rumahnya dengan sekolah menengah atas tempatnya ia bersekolah. Di sisi jalan selang seling terdapat rumah warga, gardu penjagaan dan kebun pisang. Nanda mengayuh sepedanya dengan santai, karena jarak antara sekolah dan rumahnya memang tidaklah terlalu jauh.
“Kira-kira anak di kelasku bakalan bertambah, nggak ya?” Sambil mengayuh pedal sepeda baru hadiah kenaikan kelas yang diberikan ayahnya, Nanda memikirkan banyak hal. Dari kemungkinan kedatangan siswa baru ke sekolahnya, tentang kemungkinan calon kepala pulau favoritnya untuk terpilih, sampai pada kemungkinan Bumi untuk mendapatkan kembali empat puluh persen lautannya yang hilang terserap oleh lapisan mantel litosfer.
***
Seorang anak perempuan bernama Ko, sedang memandang pantulan dirinya di depan kaca besar di kamar orang tuanya. Hanya memakai piyama, ia mulai memperhatikan semua titik yang tidak tertutup kain, hanya untuk menemukan benjolan-benjolan merah kecil yang lebih kecil dari bulir beras, tersebar di sekujur lengan dan di leher bagian bawahnya.
Maju ke depan, ia pun mendekatkan wajahnya ke cermin, dan mengusap wajah yang mungil itu dengan kedua telapak tangannya yang untung saja tidak penuh dengan benjolan merah yang aneh juga.
“Kucing. Anjing. Kakaktua. Merpati, cicak, makanan laut. Serbuk bunga, debu dan apa lagi ya?” Dengan nada sedikit penuh rasa frustasi, anak itu mulai bicara.
“Kenapa sih aku punya begitu banyak alergi terhadap sesuatu? Bahkan terhadap segala sesuatu mungkin. Kenapa ya…”
“KO!”
“I-iya, Adam. Kenapa?” Sontak Ko tersadar dari lamunannya.
“Melamun apa sih, Ko? Kayaknya seru banget sampai omongan kami berdua nggak kamu dengar.” Mulai Adam langsung.
“ Iya nih, Ko. Masa pada hari pertama kita sekolah lagi pikiranmu sudah entah ke mana perginya. Liburnya kurang ya? Hehehe. Menurutku sih iya.” Lanjut Adam.
“Sekarang kodok. Apa lagi nantinya?” Gumam Ko kecil, sedikit sulit untuk ditangkap.
“Hah? Ngomong apa sih, Ko?” Nanda bertanya balik, memastikan ucapan Ko yang memang susah didengar.
“He? Nanda? Kapan datang?”
“Ya ampun, Ko! Tadi kan kamu duluan yang nyapa aku. Masa sekarang kamu jadi seolah nggak sadar aku ada di sini?” Nanda menaruh kepalanya ke atas meja, lalu sambil setengah menutup matanya, menoleh ke arah kanan, ke tempat Ko duduk.
“I-iya ya? A-aku lupa. Maaf.”
“Ya udahlah, bukan masalah besar kok. Bukan masalah, malahan. Kamu memang kadang-kadang suka melamun nggak jelas kayak gitu sih. Aku juga udah terbiasa jadinya.”
“Iya loh Ko. Kenapa sih kamu suka melamun?” Giliran Adam bertanya.
“Nggak apa-apa kok. Mungkin memang akunya yang suka nggak jelas. Hihi sori.”
Lain dengan suasana kelas setengah jam yang lalu, sedikit demi sedikit kegembiraan mulai masuk dan menyelimuti ruangan kelas ini, meskipun cuma tiga anak yang terkumpul.
“Adam, kucingmu gimana? Baik-baik sajakah? Gimana dengan anak-anaknya? Kamu bilang baru saja lahir, kan?” Ko bertanya.
“Ya, gimana bilangnya ya? Entah kenapa dia malas menyusui anak-anaknya. Jadi aku kasih saja bayi-bayi kucing kecil itu susu sapi.” Adam menggaruk-garuk kepalanya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Sepertinya ia agak gugup.
“Apa? Susu sapi? Jangan!”
“Kenapa?”
“Lambung bayi-bayi mungil itu nggak bakalan kuat! Daripada itu mendingan kamu periksakan induknya aja. Jangan malah merugikan mereka!”
“Be-begitu ya? A-aku nggak tahu.”
“Ko, kamu tahu banyak ya, soal binatang.” Nanda tiba-tiba menimpali pembicaraan antara Adam dan Ko.
“Soalnya ini cita-citaku. Cita-citaku yang kedua.”
“Ooh, jadi dokter hewan ya? Yang pertama apa?” Nanda mencoba menebak.
“Iya, dokter hewan itu cita-citaku yang kedua. Aku sangat suka hewan dan nggak ingin mereka terluka atau menderita sedikit pun.”
“Ironis ya Ko. Kamu kan mudah terkena alergi pada hewan.” Kali ini Adam yang menimpali.
“Aku nggak peduli. Lebih baik aku yang menderita daripada mereka.”
“Ko?”
“Kenapa, Nda?”
“Kalau cita-citamu yang pertama apa? Yang menurutmu lebih penting daripada menjadi seorang dokter hewan?”
“Aku ingin jadi peneliti. Lalu aku mau menemukan obat anti alergi. Hatsyi!”
“Kenapa, Ko?” Adam dan Nanda serempak bertanya.
“Hihi. Serbuk bunga.” Ko tersenyum di balik bersinnya.
11.06.2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment